10 Daftar Tembang Terfavorit Musisi Indonesia Versi Benbenan.com Tahun 2020

Jika ada yang mengatakan terlalu klise dan basi saat kita membicarakan kenyataan pahit tahun 2020 rasanya hal itu terlalu naif. Sepanjang tahun ini keadaan berjalan semrawut. Kisah orang-orang tersungkur di beragam sektor akibat situasi yang tidak menentu turut mewarnai hari-hari kita. Akibat dari pandemi yang menghantam dan entah kapan berakhir, memaksa para pelaku seni khususnya di bidang musik memutar otak untuk terus produktif dan menolak menyerah dengan segala batasan. Terbukti sejak bulan Januari hingga Desember ini ratusan musisi terus mengirimkan press release perihal karya mereka pada kami. Tak afdal jika kami tak mengapresiasi para pelaku seni tersebut dan melanjutkan kultur merangkum daftar tembang favorit selama setahun ini. Daftar tembang-tembang yang berhasil kami rangkum berikut murni pilihan dari kami dan yang sempat kami ulas dan tampilkan di Instagram juga laman web benbenan.com. Berikut daftarnya:

1. Diskoria ft. Dian Sastrowardoyo – “Serenata Jiwa Lara”

Sebelum memilih lagu ini sebagai lagu favorit benbenan.com, jujur kami belum mengetahui bahwa single milik Diskoria ini menjadi nominasi AMI Award untuk kategori karya produksi kolaborasi terbaik. Saat resensi ini disusun, single ini terhitung sudah diputar delapan juta lebih di kanal streaming Spotify. Hal ini membuktikan tembang dengan nuansa pop 80-an dengan tema khas percintaan seperti yang diusung oleh Diskoria ini belum mati. Dalam single ini Dian Sastrowardoyo yang ditunjuk sebagai biduan tampil ciamik, ditambah dengan balutan musik disko yang terdengar groovy, lagu ini sangat cocok untuk menemani momen patah hati kalian sembari menenggak anggur dan berjoget semalaman.

2. Sundancer – “Firasat”

Pilihan kami selanjutnya jatuh pada duo garage rock asal Lombok, Sundancer. Single ini merupakan kelanjutan kerjasama dengan La Munai Records setelah pada 2019 Sundancer merilis “Pusaka Abadi”. Berbeda dengan single sebelumnya yang lekat dengan musik surf yang bertempo cepat, single kali ini hadir dengan tempo lambat yang sekilas terasa seperti lagu pop balada 60-an. Dengan tipikal oldies sound mengingatkan kembali akan Phil Spector dengan alat perekam mononya. Lantunan suara berat dari Decky Jaguar semakin mengajak kalian bernostalgia ke era 60-an.

3. Sludge Factory – “Fear”

Alunan musik muram yang melebur dengan Seattle sound yang khas à la Alice in Chains era Layne Staley kembali terdengar dari sudut Yogyakarta. Melalui single “Fear” kuartet Sludge Factory membawa memori 90-an awal yang dipenuhi grup-grup yang membawa musik (kiwari) disebut grunge, tepatnya pada salah satu kota di pantai barat Amerika. “Fear” sendiri merupakan single yang diluncurkan sebagai pembuka album mini mereka yang bertitel sama. Selain dalam bentuk video musik di kanal YouTube, lagu ini dapat kalian dengar di kanal streaming Spotify dan dalam mini album mereka yang juga dirilis dalam bentuk cakram padat.

4. The Idiot Nasty Group – “Treat Me Like a Queen”

Jurus power chords mungkin membuat sebuah musik terdengar monoton. Namun tidak untuk single yang satu ini. Membawa semangat 80’s punk hingga kental dengan pengaruh The Muff, komposisi yang ditawarkan oleh  grup asal Jakarta ini layak untuk disimak. Melalui lirik straight to the point, The Idiot Nasty Group mengajak para pendengarnya untuk memperlakukan wanita dengan cara sebaik mungkin di tengah kondisi superiority kaum adam. Teriakan Charissa pada bagian refrain, “girls have a rules make the boys so confused, girls don’t wanna lose” pun turut membawa semangat feminisme yang diusung oleh Kathleen Hanna.

5. Jasmine Risach – “Little Bird”

Makassar, mungkin  masih terdengar asing di telinga kita berapa musisi/soloist yang moncer hingga terdengar luas. Soloist belia yang sempat mengikuti ajang pencarian bakat ini, menghadirkan tembang pop nan mengawang-awang dengan tema yang jauh merepresentasikan umurnya yang belum genap dua puluh. Lirik dan aransemen yang ditulis oleh Jasmine sendiri ini mengisahkan tentang kerinduan seseorang serta pencarian jawaban tentang hari esok. Entah ia mendapat inspirasi dari mana untuk menulis lagu ini, yang jelas Jasmine adalah musisi yang patut untuk ditunggu karya-karya selanjutnya.

6. Joe Million, Altarlogika, Don Wilco – “Laga Tiga Pendekar”

Kalian pecandu musik hip-hop beraliran boom bap garis keras? Siapkan telinga, karena telinga kalian akan diinjak-injak oleh trio rapper, pendekar skena hip-hop lokal: Joe Million, Altarlogika, dan Don Wilco dengan tembang bertajuk “Laga Tiga Pendekar”! Berawal dari mabuk, hingga akhirnya berkolaborasi melahirkan album mini Nisthura, pendengar disuguhi akrobat dari permainan flow Joe Million, seruan lirik beraga Altarlogika, serta hantaman Don Wilco kepada para weak MC’s. Bak tiga pendekar di belantara skena lokal, mereka menghajar para bani hypebeast dengan semena-mena. Altarlogika yang tak lain merupakan peracik beat menyuguhkan hantaman khas boom bap dengan sample nyaring tiupan bagpipe khas Skotlandia yang semakin menegaskan bahwa trio tersebut siap untuk merusuh dan bersilat rima. “Laga Tiga Pendekar” merupakan tembang yang harus didengar bagi kalian yang mengaku sebagai hip-hop head tanah air!

7. Sajama Cut – “Kesadaran/ Pemberian Dana/ Gempa Bumi/ Panasea”

GODSIGMA terlihat menjadi arah baru yang manis untuk Sajama Cut, dengan riff-riff gitar yang gegap gempita, melodi yang catchy namun digembosi lirik sarat sarkasme, dan aransemen yang lebih organik bila dibandingkan dengan album-album yang telah terlahir sebelumnya. Legenda indie rock asal Jakarta ini memberikan sajian yang kohesif, cepat dicerna, dan menonjok di awal. Salah satu suguhan cantik ada pada tembang “Kesadaran/ Pemberian Dana/ Gempa Bumi/ Panasea” dengan harmoni perpaduan melodi synth dan gitar, menjadikannya layak menjadi anthem nyanyian bersama dalam suasana harmonis. Nuansa enerjik, melodi emosional yang mudah dicerna, serta lirik abstrak nan jauh dari klise namun menggugah inilah yang memberikan pengalaman berharga bagi pendengar.

8. Lansanese – “Take a Look-look”

Apakah kalian butuh soundtrack untuk menertawakan lacur dan buntungnya kondisi hidup? Mungkin album Total Anjink dari Lansanese adalah jawabannya. Band noise rock/experimentalrock/grunge asal Amerika Serikat – Yogyakarta. Band ini mengangkat tema keseharian hidup rakyat jelata yang dituangkan dalam lirik campuran bahasa Indonesia dan Inggris dengan gaya yang unik dan menggelitik. Mulai dari masalah sosial seksualitas, narkoba, perlakuan terhadap hewan, hingga kekerasan di Indonesia mereka kemas dalam konsep yang berkembang secara kacau hingga menjadi pengalaman distorsi dan ritme yang mendalam. Belum juga puas? Lansanese lalu menyampuli narasi abnormal mereka dengan musikalitas yang cukup untuk membuat kita para pendengar mengumpat. Musik experimental rock berkoalisi dengan derik noise dan sentuhan grunge menegaskan bahwa Lansanese adalah band yang total anjink! Salah satu yang ter-anjink adalah “Take a Look-look”. Tanpa perlu banyak babibu, silahkan dengar sendiri!

9. Muchos Libre – “Butaneko”

Buta (豚) berarti babi, dan Neko (猫) adalah kucing dalam bahasa Jepang. Judul single terbaru Muchos Libre ini menceritakan tentang seekor babi ternak yang diakhir hidupnya kita ketahui hanya akan menjadi daging olahan. Namun sang babi memilih untuk menjadi kucing supaya tidak menjadi daging olahan. Istilah butaneko juga merupakan ungkapan yang kerap dilempar oleh Bagongtempur (vokal) dan teman-teman asramanya saat di Jepang, untuk menggambarkan sifat orang malas. Begitulah imajinasi liar sekaligus metafora kehidupan cetusan unit garage rock asal Bandung, Muchos Libre. Gaung gitar yang membuka lagu, kemudian berjalan tanpa basa-basi seiring hentakan drum dibarengi distorsi gitar dan lantunan sang vokalis, serta lirik lagu yang disampaikan dengan jenaka, cukup untuk membuat mata kita terbuka.

10. Moondive – “Mischief”

Berbicara tentang lagu “Mischief” sendiri, di sini Moondive—unit rok alternatif asal Surabaya, mencoba untuk menceritakan bagaimana kebohongan hadir di antara kita semua. Bercerita tentang seseorang yang sering membohongi orang-orang di sekitarnya dengan memanfaatkan kebenaran-kebenaran yang ia simpan sendiri dan berakhir merugikan orang lain. Trik-trik licik dan kemampuan memanipulasinya dilakukan demi kepentingannya, agar orang-orang tidak tahu. Layaknya bangkai yang disembunyikan lama-kelaman pasti akan tercium aroma busuknya, tatapan bohongnya dan tingkah laku anehnya sudah tidak mungkin disembunyikan lagi “now I can see you like an open sky” andai penggalan dari lirik Mischief bisa berbicara. Pada akhirnya semua orang yang ia bohongi telah sadar dan semua kebohongannya telah terungkap.

Penulis: Agung Wibowo & Ghani Yoseph
Editor: Ghani Yoseph

Leave a Reply