10 Daftar Lagu Terfavorit Tahun 2020 Karya Musisi Lokal Versi Benbenan.com

Ponorogo, 31 Desember 2020

2020 adalah momen yang berat, melelahkan, menyakitkan, dan terlalu sukar walau hanya untuk berkata “kami baik-baik saja” bagi sebagian besar orang tak terkecuali mereka yang tinggal di Ponorogo, kota yang menjadi base town Benbenan.com. Bukan cuma perkara virus, namun berbagai peristiwa menjengkelkan banyak sekali terjadi di tahun tersebut mulai dari langkanya alat-alat untuk protokol kesehatan karena kasus penimbunan, dilarang membuat acara yang mengundang kerumunan termasuk konser musik, gempa bumi, terorisme dan masih banyak lagi.

Meski begitu, usaha untuk berdamai dengan rasa cemas dan berjabat dengan pikiran was-was menjadi pilihan satu-satunya yang paling masuk akal tak terkecuali keputusan menyesuaikan diri dengan keadaan untuk tetap bisa menjaga produktifitas selama masa pandemi. Awalnya kami berpikir, apa jadinya tahun 2020 ini nanti, bisakah para musisi lokal tetap memproduksi karya saat tengah dibatasinya interaksi sosial dan ketatnya aturan-aturan daerah menyoal kasus COVID-19 yang belum juga jelas kapan akan berakhir.

Namun, kekhawatiran kami salah besar! Justru kami menemukan banyak sekali nama-nama baru yang muncul di skena musik lokal dan tak sedikit pula yang berhasil mengeluarkan lagu, video musik, video live session, rilisan fisik, hingga album penuh. Bahkan, beberapa diantaranya mengaku punya waktu lebih banyak untuk melakukan eksplorasi dalam proses produksi seperti mulai mempelajari dan menerapkan teknik home recording, mixing, mastering hingga distribusi secara mandiri. Dan kami, akhirnya berhasil menemukan 10 nama musisi lokal dengan lagu favorit versi tim Benbenan.com tahun 2020. Berikut daftarnya:

1. Asking Chalara ft. Iis – “Penggaris”

Chalara, rapper muda asal Kuningan yang saat ini berdomisili sembari berkarya di kota reyog ini menjadi satu angin segar khususnya untuk skena musik hip-hop lokal. Di bawah nama kartel hip-hop lokal, Reyogland Hip-Hop Association, Chalara berhasil meracik rapalan lirik bak sebongkah semangat untuk terus mencari potongan puzzle dalam hidup demi menjalani kehidupan yang makin hari kian rumit ini hingga termanifestasikan lewat lagu terbarunya bertajuk “Penggaris” yang dilepas pada bulan Oktober lalu melalui kanal YouTube pribadinya. Di lagu ini ternyata Chalara tak hanya sendiri, melainkan ditemani oleh kawan sejawatnya, Iis Stiyoputri serta menggaet punggawa Reyogland kawakan, Bagus Yugho. Chalara sendiri mengaku bahwa di lagu tersebut mencoba untuk mendongkrak, memotivasi sedikit demi sedikit para pendengar, khususnya yang sedang down karena situasi yang sedang buruk atau apapun itu, “Karena sebenarnya kita hidup masih butuh penggaris untuk lurus teguh presisi dalam pendirian”, Ujar Chalara. Untuk proses recording, mixing dan mastering Chalara bekerjasama dengan Yusuf Mahardian (Pro Studio Ponorogo). Lirik lagu “Penggaris” ditulis sendiri oleh Chalara sedangkan beat dibuat oleh Bagus Yugho.

2. DarkSystems – “Yudhishthira”

Darksystems adalah proyek solo instrumental dari Agam Tigar Gumelang, gitaris asal Ponorogo yang juga tergabung dalam band HERACLES. Di tahun 2020 ini tepatnya pada 7 September lalu dia baru saja merilis lagu terbaru bertitel “Yudhishthira” yang saat ini sudah bisa diakses melalui kanal streaming Spotify. Alasan kami memasukkan single ini ke daftar favorit karena sepanjang perjalanan skena musik di Ponorogo sejauh ini menurut kami Darksystems merupakan satu warna sangat baru, progressive rock yang memasukkan sentuhan warna musik khas Jawa dan India.

Proses pembuatan dan rekaman lagu tersebut memakan waktu kurang lebih satu bulan yang mana proses rekaman, mixing dan mastering dia kerjakan sendiri. Selain lagu Yudhishthira, ada 2 lagu lain yaitu “Bima” dan “Arjuna” yang sudah rilis di YouTube. Pilihan warna musik Agam lewat Darksystems ini tentu tak jauh dari latar belakang dia sebagai gitaris progressive rock-metal yang sejak duduk di bangku sekolah sering mengikuti kompetisi band (kompetisi ya, bukan festival namanya), selain itu pengaruh dari nama-nama seperti Tim Henson dari Polyphia, Jinjer, Dream Theater, hingga Monument turut menyumbang sebagian besar isi kepala Agam. Saat ini, Agam dengan proyek solonya dan juga bersama bandnya Heracles sedang mempersiapkan EP yang keduanya akan rilis di tahun 2021. Yang menarik adalah, baru kali ini kami mendengar musisi jebolan kompetisi band (yang kalian, ah, nyebutnya “Festival Band”) mampu seproduktif ini dan berhasil merilis karya yang nggak melulu menyoal cinta-cintaan dan sakit hati ditingal sang kekasih.

3. Gan StateOfMind – “Rima Pembunuh”

Tak bisa dipungkiri, agaknya tahun 2020 merupakan tahun yang cukup terik untuk dilalui, tak terkecuali bagi Gan StateOfMind, rapper belia asal kota Ponorogo. Namun di saat sukarnya kondisi dan kesibukan, mengingat ia baru saja lulus dari bangku SMA di tengah pandemi COVID-19, Gan berhasil melahirkan sebuah EP dan satu buah single sepanjang tahun ini.

“Rima Pembunuh”, merupakan tajuk single yang ia luncurkan setelah digarap sejak bulan maret lalu. Mengenai lagu tersebut, Gan menggaet beatmaker yang telah melanglang buana di skena hip hop nusantara, Dangerdope. Gan mengaku senang karena dapat diberi kesempatan untuk ‘meludah’ di atas beat yang diracik Dangerdope. “Ya! Lagu itu berisikan kekesalan! Sialnya, seiring waktu mendewasakan saya, saya menyadari bahwa kekesalan yang begitu besar dan coba saya ludahkan dalam single itu kemudian ketika ditelaah lebih mirip sekedar racauan belaka, yang gagal mengkonstruksikan sebuah gambaran akan keadaan sosial politik. ‘Rima Pembunuh’ merupakan sebuah ekspresi, namun gagal dalam penyampaiannya sebagai sebuah kritik sosial sama sekali!”, Begitulah keterangan Gan kepada segenap tim redaksi dengan tegas mengenai single ini.

Di single “Rima Pembunuh” ini, Gan mencoba bereksplorasi dengan flow rap yang lebih beragam. Hal ini cukup kontras apabila dibandingkan dengan penggunaan flow rap pada lagu-lagu yang telah dilahirkan Gan sebelumnya. Dalam 3 verse yang ia ludahkan di “Rima Pembunuh”, ia memadukan berbagai flow mulai dari twist ala Twista hingga triplet flow dengan ritme cepat yang unpredictable. Namun, ia tetap menekankan ke-khas-annya dengan tidak memasukkan chorus sama sekali. Lirik ditulis sendiri oleh Gan StateOfMind dan disajikan dengan flow rap yang belum pernah ia ludahkan sebelumnya. Pacuan flow yang beragam ia tundukkan pada setiap rima sebagai acuan. Diproduseri oleh Dangerdope dan direkam di Pro Studio, Gan mengaku senang dapat melahirkan single ini dan sebuah kehormatan bisa bekerjasama dengan Bang Rencong (Dangerdope). Di lagu ini dihiasi pula dengan rapalan dari Wisnu Subogang, rapper kawakan kota reog yang secara spontan ketika proses rekaman berlangsung waktu itu. Setelah dirilis via YouTube pada 3 April, “Saya akan menunggu kritik, sapaan dan diskusi dari kawan-kawan semua!”, Ujar Gan mengakhiri keterangannya.

4. Genio – “Arti Hadirmu”

Musisi bernama lengkap Yunas Genio ini tentunya sudah tak asing lagi di telinga para penikmat dan pelaku musik Ponorogo khususnya skena musik jazz. Pada bulan Mei lalu dia kembali melepas single berjudul “Arti Hadirmu” lewat akun YouTube pribadinya. Single tersebut sebenarnya sudah dirilis 10 tahun lalu bersama bandnya bernama Impresif, ketika ia masih duduk di bangku SMA. Genio mengatakan secara konsep lagu tersebut tak banyak berubah, hanya ada beberapa tambahan di bagian gitar.

Ditanya menyoal alasan kenapa Genio merilis kembali lagu itu karena dia menilai saat ini tema lagu tersebut masih relate untuk diperdengarkan lagi. Proses recording berjalan di Holdingsky Music Ecosystem, basecamp unit jazz-groove bernama Mrs. Holdingsky yang Genio juga tergabung di dalamnya. Lalu, sektor mixing dan mastering dia bekerjasama dengan Yusuf Mahardian (Pro Studio Ponorogo). Namun hingga saat ini, Genio belum pernah sama sekali memainkan lagu-lagu dia sendiri secara live baik tampil solo maupun dengan Mrs. Holdingsky dengan alasan setiap lagu yang ia buat sendiri itu hanya sebagai curahan hasrat produktifitas dan idealisme dia.

Lagu “Arti Hadirmu” dibuat oleh Genio hanya dalam waktu 30 menit, waktu yang amat singkat untuk meramu sebuah lagu. Menurut kami, Genio menjadi musisi jazz lokal yang paling produktif merilis karya, dia menilai saat ini band indie sedang berjaya karena banyaknya pilihan media publikasi yang kini lebih mudah untuk mempresentasikan setiap karya dan itu menjadi pemacu semangat bagi dia untuk terus produktif. Genio bersama Mrs. Holdingsky kerap tampil di berbagai pertunjukan jazz nasional seperti Ngayogjazz, Reyog Jazz, Kharisma Jazz Fest, Jazz Truck, Lumpia Jazz Semarang, Jazz Bus, hingga Bojazznegoro. Saat ini Genio juga sedang mempersiapkan album perdananya yang dijadwalkan akan rilis tahun depan.

5. Halahmboh – “Suspect”

Halahmboh, proyek harsh noise milik Gigih Kurnia ini masih menjadi satu-satunya unit eksperimental lokal yang berhasil merilis album penuh. Di delapan nomor yang dikemas apik dalam album yang bertajuk Contaminated tersebut, pilihan kami jatuh pada track nomor tujuh bertitel “Suspect”, alasannya? Ya! Relate dengan tragedi mengerikan yang terjadi di sepanjang tahun ini dan sepertinya belum juga akan selesai, COVID-19 dengan segala simpang siurnya.

Kata suspect tak selalu merujuk pada orang yang terkena ataupun sekedar dicurigai, namun bagi kami itu sudah pantas menjadi nama tengah semua orang yang mayoritas menanggung luka di wilayah psikis maupun mental karena tragedi tersebut. Namun secara pribadi Gigih menyebutkan “Suspect” tak melulu merujuk spesifik ke masalah itu saja tapi bisa berbagai hal (virus, zat-zat tertentu, dan sebagainya). “Suspect” dan tujuh nomor lainnya di dalam Contaminated direkam, di-mixing dan mastering secara mandiri oleh Gigih Kurnia. Jika kita lebih teliti, kedelapan track tersebut mempunyai alur cerita yang sangat jelas, di mana mulai dari awal hingga track kedelapan menceritakan tentang seseorang yang terkontaminasi dan berakhir mati lalu mengubur dirinya sendiri. Album Contaminated sudah dirilis secara resmi dalam bentuk kaset pita, CD dan digital via Bandcamp. Gigih mengaku Halahmboh adalah proyek idealis dia dan menjadi salah satu cara untuk mengobati kebosanan juga sebagai ekplorasi warna baru dalam bermusik selain bersama bandnya, Vanagandr. Halahmboh juga menjadi musisi eksperimental asal Ponorogo yang paling sering tampil di berbagai pertunjukan noise-eksperimental di dalam maupun luar kota seperti Jogja Noise Bombing, Solo Harsh Fest, Unen-Unen Ambyar, Distorsi Lahir Batin, Grebeg Noize, Pasaran, dan masih banyak lagi.

6. Herdith Caesarian – “Hero”

Nama ini muncul secara tidak sengaja saat obrolan bersama sejawat kami Sigit Andriana (Tim Audio Engineer dari band Tuhkastura) pada malam itu. “Kowe wes ngerti Herdith? Dek’e nduwe proyek solo instrumental genrene groove-metal, wonge wes rilis sak album sekitar 2019 akhir wingi kae” (“Kamu sudah tau Herdith? Dia punya proyek solo instrumental bergenre groove-metal, sudah rilis satu album sekitar akhir 2019 lalu”). Sialan! Dia luput dari perhatian kami dan ini harus menjadi satu pengecualian, nama Herdith Cesariandan satu track berjudul “Hero” yang kami ambil dari albumnya War Song harus masuk ke daftar lagu musisi lokal favorit kami tahun ini. Alasannya? Jelas, kami baru mendengarnya tahun ini, selain itu pertimbangan kuat lainnya adalah Herdith menjadi musisi lokal pertama Ponorogo beraliran groove-metal yang berhasil merilis album penuh. Hero, dan semua lagu dalam album War Song dibuat, direkam, di-mixing dan mastering secara mandiri oleh Herdith di kediamannya Desa Sooko, Ponorogo.

Semua lagu di album War Song menceritakan tentang perang yang sejauh ini referensi dia dapat dari film, buku, hingga berbagai artikel. Sayangnya, Herdith belum pernah tampil secara live membawakan lagu-lagunya tersebut dengan alasan belum menemukan partner yang pas untuk mengisi posisi additional player. Sebelumnya, Herdith sempat berdomisili di Jogjakarta dan tergabung dengan band bergenre alternative metal bernama 23Disaster yang masih aktif hingga sekarang, namun pada awal 2019 ia memutuskan untuk kembali ke Ponorogo karena alasan pekerjaan. Tapi itu tak menyurutkan dia untuk tetap produktif merilis karya dengan merilis album yang tersebut di atas. Di samping itu, Herdith mengaku masih belum puas dengan lagu-lagu yang sudah dirilisnya dan merasa justru itu menjadi pemicu dia untuk membuat karya lebih banyak dan lebih baik lagi dari kedepannya, terutama di urusan kualitas rekaman. Herdith Cesarian dan keterlambatan tim Benbenan.com mendapat berita tentangnya, bagi kami adalah contoh nyata bahwa masih banyak musisi daerah yang unik, menarik dan berkompeten namun kurang menahu soal bagaimana memanfaatkan jejaring media sosial sebagai alat publikasi untuk menyebarkan lebih luas berbagai berita baik yang muncul dari setiap produktifitas dan kreatifitasnya. Lagu-lagu Herdith Caesarian saat ini sudah dapat diakses melalui berbagai gerai musik digital seperti Spotify, Deezer, iTunes hingga YouTube.

7. Mrs. Holdingsky – “Friendzone”

Mrs. Holdingsky, unit jazz yang cukup sering tampil di berbagai pertunjukan jazz nasional ini akhirnya melepas single perdananya setelah 5 tahun pasca band tersebut dibentuk bertajuk “Friendzone”. Band yang digawangi oleh Danang Putro (Vokal), Yunas Genio (Gitar), Lutfan Dandy (Bass), Akbar Andriansyah (Piano), Romdoni (Keyboard, Synth), Willy Wildan (Saxophone), dan Rizal Syaifur (Drum) ini terbilang menjadi band jazz lokal yang paling sering tampil di berbagai macam perhelatan gig mulai dari Ngayogjazz, Reyog Jazz, Jazz Truck, Bojazznegoro, menjadi bintang tamu di acara kafe hingga di pesta pernikahan.

Single “Friendzone” ditulis oleh Genio dan lagu dibuat oleh Lutfan Dandy juga Genio pada pertengahan 2019 lalu. Menceritakan tentang problematika yang tak jarang terjadi dalam cerita percintaan anak muda yang terjebak dalam hubungan pertemanan hingga memaksa mereka tak mungkin melanjutkan ke jenjang status yang lebih serius. Namun Genio enggan menyebut bahwa konteks lagu tersebut hanya bermakna di wilayah itu saja, dia menambahkan bahwa itu juga bisa diartikan pula menyoal jarak yang ditimbulkan karena berbagai kasus yang terjadi sepanjang 2020 ini yang memaksa mereka tak bisa bergerak dan berjalan lebih jauh dalam hal karier bermusik, karena pandemi, tentu saja.

Dari segi warna musik, mereka menyebut permainan mereka mengacu pada musik-musik fusion alias musik jazz yang masih mudah untuk dinikmati, berbalut dengan sentuhan-sentuhan ala pop alternatif. Kini, Single “Friendzone” sudah dirilis dalam bentuk video lirik melalui akun YouTube pribadi mereka beberapa hari lalu, yang sebentar lagi juga akan disebarkan melalui berbagai platform musik digital lainnya.

8. Naufal Listyawan – “Ruang Bahagia”

Single “Ruang Bahagia” milik Naufal Listyawan terbilang cukup berhasil membuat kami menganggukkan kepala, dia mampu merangkum konsep lagu cinta-cintaan dengan cukup apik serta harmonisasi lagu yang tak membosankan, ada sebuah harapan di setiap susunan nada yang ia ciptakan, walaupun bagi kami tema cinta menjadi satu tema yang sudah usang karena selalu saja terperangkap dalam diksi-diksi receh dan kosakata serta sejengkal kalimat yang itu-itu saja.

Naufal, lewat lagunya “Ruang Bahagia” yang dirilis pada 7 Februari lalu mampu menegaskan bahwa bicara menyoal cinta belum akan selesai, karena bagi Naufal “Lirik adalah sebuah tubuh, dan nada adalah rohnya”, walaupun tema tersebut jadi salah satu tema yang paling mudah ditulis dan mudah diterima namun perhatian pada komposisi di wilayah diksi, hingga pemilihan nada dan harmonisasi menjadi tantangan baru untuk menghasilkan karya yang tak menjenuhkan. Ini menjadi lagu pertama Naufal yang dirilis pasca ia memutuskan untuk bersolo karier setelah sebelumnya ia tergabung lebih dulu dengan band bernama One serta unit rock bernama Arlandria. Di proyek solonya ini, Naufal memilih warna alternative rock-ballad dan banyak terpengaruh pula dengan nama-nama seperti Foo Fighter, Paramore hingga Asking Alexandria. Kini, lagu Ruang Bahagia sudah bisa dinikmati secara streaming di berbagai gerai musik digital.

9. RTRK – “Di Rumah Aja”

Masa pandemi dan keputusan pemerintah untuk memberlakukan PSBB di berbagai daerah beberapa waktu lalu mau tidak mau menjadi satu hal yang harus dijalani dengan sangat membosankan demi memutus penyebaran COVID-19, tapi tidak untuk unit alternative rock, RTRK. Yang mana dengan diberlakukan pembatasan sosial tersebut justru membuat setiap personel punya banyak waktu untuk memproduksi karya. Band yang beranggotakan Angger Pararaton Sadewo (Gitar, Vokal), Rohmat(Gitar), Tri Nurcahyo (Bass), dan Bangkit Rinto (Drum) ini awalnya memakai nama Ray_ox dan memutuskan berganti nama karena secara tema dan warna sudah banyak berubah. Dalam lagu “Di Rumah Aja” ini secara makna Angger mengaku bahwa ada pesan kuat untuk menganjurkan masyarakat sedikit menahan egonya dengan tak perlu keluar rumah kalau bukan untuk keperluan yang mendesak, melihat bahkan banyak tempat usaha terpaksa berbesar hati untuk tutup sementara demi memutus rantai penyebaran COVID-19. Lagu ini diproduksi secara mandiri oleh RTRK dan tim, mulai dari proses menulis, aransemen hingga rekaman, hanya pada proses mixing dan mastering mereka dibantu oleh JB Records, Yogyakarta. Saat ini, RTRK sudah merekam 3 buah lagu dan beberapa materi masih dalam tahap proses penyempurnaan sebagai persiapan mini album mereka yang akan rilis tahun 2021. Lagu “Di Rumah Aja” sudah dilepas di YouTube, Spotify dan beberapa layanan music streaming lainnya.

10. Tuhkastura – “The Oath Liturgy”

Tuhkastura masih menjadi satu-satunya musisi yang membawakan genre musik psikedelik di skena lokal. Setelah lewat single mereka “Hope” yang tahun lalu juga masuk ke dalam daftar lagu favorit tahunan kami, kali ini mereka berhasil menyita perhatian tim kurator Benbenan.com untuk tidak berpikir dua kali memasukkan kembali nama mereka ke dalam daftar lagu favorit karya musisi lokal melalui single mereka “The Oath Liturgy”. Namun saat kami tanya lebih dalam seputar makna yang terkandung dalam lagu tersebut mereka enggan menjawab secara detail dan lebih berbicara menyoal hal teknis dan segi produksi saja. Analisa kami, lagu-lagu dari Tuhkastura lebih bercerita seputar hal-hal yang bersifat kontemplatif.

Lagu “The Oath Liturgy” ini jadi salah satu nomor dari 4 lagu yang dimainkan saat pembuatan video live bertajuk “Live Session at Recofhub” pada bulan April lalu dan dirilis pula bersama 3 lagu lain yaitu “Psychodelic”, “Same Old Anxiety” dan juga single perdana mereka “Exist in Harmony at the Center of the Universe” yang mana di lagu “Same Old Anxiety” mereka turut mengajak dua musisi eksperimental-noise lintas benua yaitu Luis Sanz (Noijzu) asal Peru dan Christoph Brunggel (Still Und Dunkel) asal Swiss. Keempat lagu tersebut sudah dilepas dalam bentuk fisik berupa kaset pita bekerja sama dengan label asal Bogor Harsh Production dan DVD yang diproduksi secara mandiri oleh tim Tuhkastura. “The Oath Liturgy” saat ini sudah dapat ditonton di akun YouTube pribadi mereka.

Band yang beranggotakan Amir (Gitar, Vokal) dan Fajar (Bass) serta dibantu oleh additional player terbaik mereka Gathot (Gitar), Nandra (Keyboard, Synth) dan Deny (Drum) saat ini sedang mempersiapkan beberapa materi tambahan untuk bakal album penuh mereka yang harapannya akan rampung sekaligus rilis di tahun 2021 ini. Di bagian proses kreatif lagu “The Oath Liturgy” juga semua lagu milik Tuhkastura dibuat oleh Amir dari segi aransemen musik dan Fajar memegang hampir sebagian besar penulisan setiap deret lirik milik Tuhkastura. Sialnya, saat kami pancing perihal apa yang menjadi trigger mereka untuk meracik secara apik setiap bunyi nada dan syair jawabannya tak sesuai dengan harapan kami yang mana itu bukanlah hasil dari kontaminasi zat-zat tertentu seperti sebagian besar stigma orang terhadap psikedelik itu sendiri yang cenderung mengarah ke tuduhan penggunaan obat-obatan, namun “Kami selalu berusaha peka dan siap terhadap problematika hidup yang selalu mengundang rasa cemas datang, itu sudah lebih memabukkan dari narkoba manapun, hahahaha…. Dan juga rajin sembahyang ya di sepertiga malam mungkin bisa menambah kepekaan kita atas khauniah, cihuy!”, tukas Amir dan Fajar dengan tawa di sela-sela interview bersama tim Benbenan.com.

Penulis: Ameer Al-Muwaasaat
Editor: Ghani Yoseph

Leave a Reply