Upaya Manner House Mengejawantahkan Proses Pencarian Diri dalam Single “Twisted Acolyte”

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat hingga akhirnya EP pertama dari Manner House telah mendekati puncak perilisannya. Hal ini ditandai dengan munculnya nomor ketiga dari EP ini sebagai penanda dari proses penyempurnaan cerita akan penyesalan di masa lalu dan tenggelamnya segala ego sebagai sebuah proses refleksi diri yang pada akhirnya bermuara di dalam dasar relung jiwa yang sejati.

Melalui dua single sebelumnya, “Please, Don’t Ever, Disappear” dan “Forgotten Sea”, EP ini seakan menceritakan tentang betapa rentannya seorang manusia, setelah dirasuki oleh berbagai rasa kepemilikan atas segala hal yang telah diberikan oleh hidup ini. Kesombongan dan keangkuhan menjadikan hilangnya sang “Aku” yang sejati didalam ribuan topeng yang tercipta atas dasar keinginan dan rasa kepemilikan atas waktu di muka bumi ini.

Seakan tak sadarkan diri, terkadang seorang individu dapat terlena atas segala ego yang terus dibiarkan tumbuh didalam hati, yang terus menggerogoti layaknya energi bumi yang tergerus secara eksponensial oleh ketamakan manusia, hingga akhirnya tanpa disadari, bahwa kesadaran ini terus berganti secara tidak pasti hingga menghilangkan diri yang sejati. Proses besar dalam menanggapi rasa penyesalan dan kebencian yang diceritakan oleh dua single sebelumnya pada EP ini, seakan membawa alur naskah EP ini kearah pemikiran yang lebih substansial didalam suatu garis imajiner yang terukir didasar lautan, dimana beristirahatnya segala keinginan dan kerisauan atas ketidakpastian ilusi pikiran.

Proses penyelesaian ini tidak semata-mata muncul tanpa sebab. Selalu ada alasan dibalik sebuah pertanda, dan selalu ada ayat yang berbeda untuk setiap hikmah. Rasa dendam dan kesedihan yang mendalam menimbulkan sebuah kisah fatamorgana, dimana kerisauan membabi buta, bagaikan terbius di dalam mati, hingga melepuhnya denting waktu. Keruntuhan inilah yang akhirnya menjadi sebuah perjalanan panjang dalam pencarian diri yang sejati, dimana lepasnya segala topeng diri, untuk kembali pada yang putih.

Tak terhitung hikmah yang dapat dipetik, hingga akhirnya seakan tak sadarkan diri. Proses ini seakan memutar ulang segala memori, dan mengambil hikmah dari apa-apa yang telah terjadi. Penghayatan ini pun tak luput dari pengaruh kondisi pandemi, dimana kontemplasi telah mengajarkan sebuah arti syukur, atas segala pesan yang telah diberikan oleh semesta ini.

Duo asal Bandung ini, Manner House, menuangkan proses panjang tersebut melalui perilisan single ketiga dari EP perdana mereka pada akhir Oktober ini. Lebih tepatnya, nomor ketiga dari debut EP ini telah dirilis melalui layanan streaming music digital pada Jumat, 23 Oktober 2020, dengan tajuk Twisted Acolyte.

Lagu ini merupakan pengejawantahan dari proses pencarian diri yang sejati, yang muncul melalui proses panjang pertempuran hati. Hal ini menjadi medium dari Zulfikar Azhar Mahmud (Vokal, Keyboard, Piano, Synthesizer) sebagai proses pembenahan diri untuk berdamai dengan setiap konflik juga hikmah didalamnya. Menurutnya, terkadang, memang seringkali rasa syukur hanya timbul ketika diri ini mendapat hal yang baik saja. Namun, pada keberjalanannya syukur memang sudah sepatutnya tidak memandang kondisi, apapun yang terjadi memiliki hikmah, layaknya buah yang diperas, manusia terkadang membutuhkan sebuah tekanan untuk memeras esensi dari saripati kehidupan.

“For whatever reasons, we wanted everyone to kneel down upon our ego…”

Merupakan sebuah cara bagi Zulfikar untuk meluapkan segala emosinya, tentang keegoisan diri yang disertai dengan segala rasa kesombongan manusia yang tanpa disadari tumbuh didalam diri. Dengan menyadari hal tersebut, secara tidak langsung mendorong hati untuk berintrospeksi diri yang akhirnya bermuara terhadap sebuah proses panjang dalam menemukan kesadaran yang sejati dengan memberikan ruang kepada diri, untuk beristirahat sejenak sehingga mampu menyadari, atas segala makna dari apa-apa yang telah terjadi.  

Sama halnya dengan nomor pertama dan kedua pada EP ini, sebuah kolaborasi dengan musisi lain dirasa layak menjadi hal yang mereka harus coba lakukan, walaupun itu proses tersebut merupakan sebuah pengalaman yang terbilang baru untuk mereka. Virdania, seorang singer/song writer berbakat asal Jakarta didapuk menjadi  featuring artist untuk nomor ketiga ini.

Lagu dengan durasi 3:21 ini disajikan dengan musik yang dapat dikatakan cukup eksploratif dibandingkan dengan beberapa lagu Manner House sebelumnya. Lagu ini kental dengan suasana elektronik dipadu dengan nuansa gitar yang mampu berkompromi dengan irama electric-bass dan synth-bass, hal itu dirasa perlu untuk muncul sebagai penengah dari segala eksplorasi ambience yang tercipta dari karakter synth yang dimunculkan.

Setiap nomor dalam rangkain perilisan EP ini akan selalu melepas Official Music Video pada kanal YouTube mereka dua minggu setelah merilis official audio melalui kanal streaming music digital. Untuk nomor pertama dan kedua telah mereka rilis dan dapat dinikmati di kanal YouTube mereka; Manner House.

Manner House:
+6285 220 919 212 (Bayu Umbara)
E-Mail: mannerhouse.official@gmail.com
Instagram: @mannerhouse.official
SoundCloud: Manner House
YouTube: Manner House

Leave a Reply