Secarik Reportase “Mlungker” dari Melingkar Festival 2019


Hari
Pertama: Sabtu, 20 Juli 2019
Udara di Hutan Pinus Nongko Ijo kala itu sangat sejuk untuk ukuran jam satu
siang di musim kemarau panjang seperti sekarang. Memakan waktu sekitar 2 jam
bagi saya dkk berkendara dari Ponorogo yang baru saja tiba di lokasi pada saat
itu. Sejauh mata memandang, telah terhampar puluhan tenda yang membentang di
hampir 80% medan pertunjukan, sedang sisanya sudah barang tentu, sebuah stage 4×6 berkonsep minimalis yang
ornamen utamanya yaitu lilitan lonjoran bambu dengan instalasi melingkar yang membingkai
rangka panggung bagian depan, dan tidak
ketinggalan, terdapat 2 helai sejenis kain bohemian mengapit layar proyektor
pada sektor buritan. Sungguh
terlampau artsy dan benar-benar indie, bukan?
 

PARAPURAPA,
kuartet
dari Jogja, membuat saya tergugah untuk mendekati panggung, yang sebelumnya
lebih memilih duduk bersantai mendengar deretan penampil dari jarak jauh.
Memainkan musik rock nihil biduan, pandangan saya lebih fokus ke satu personel yang
berada di balik kemudi macbook dan beberapa pedalboard-nya yang bertugas khusus memproduksi
deru noise. Dalam hati sempat takjub
dan terheran-heran, ternyata ada juga band se-ambyar
ini di sebuah festival musik se-konseptuil “Melingkar
Festival 2019”
. Dan saya suka!

Kembali menjauh dari area panggung,
sembari menunggu jadwal naik pentas KUSK
(Ponorogo), saya menyempatkan diri bercakap ngalor-ngidul
bersama Afif, salah seorang sahabat
lama di Madiun sekaligus bagian dari panitia penyelenggara. Beberapa informasi
penting berhasil saya dapatkan. Ia membeberkan bahwa di tahun ke-3 Melingkar Fest ini, di skala yang
tentunya jauh lebih besar, justru kondisi kepanitiaan yang sudah tidak sekompak
tahun-tahun sebelumnya. Afif mengimbuhkan,
kalau acara tahun ini hanya diampu oleh panitia sebanyak 18 orang saja, separuh
dari jumlah panitia di tahun sebelumnya. Bisa teman-teman bayangkan bagaimana perjuangan mereka untuk mewujudkan acara di tahun ini? Bahkan untuk load-in keperluan produksi dan logistik
saja sudah dimulai sejak H-4 sebelum acara. Angkat topi setingi-tingginya buat kerja keras
semua teman-teman Mediun Lingkup Karya.



Arloji menunjukkan angka di sekitar
pukul 4 sore, yang artinya jatah waktu bagi KUSK, trio indie-rock
dari kota Ponorogo, untuk unjuk kebolehan. Membuka penampilan dengan mendaur
ulang hits milik Rumahsakit,
“Kuning”. Berlanjut dengan memamerkan 2 single
baru mereka, “Fake Plastic Love” & “Lini Masa”. Secara keseluruhan
penampilan mereka memang tidak terlalu istimewa. Sony, si penabuh drum, bermain
kurang optimal dan sering luput di beberapa ketukan. Vini, sang frontman mereka, juga terkendala teknis
di masalah tata suara gitarnya. Lengangnya situasi penonton & kondisi mood yang berantakan adalah perpaduan
yang kurang mengenakan bagi KUSK
pada sore itu. Namun, peduli setan apa kata orang! Bodo amat! Mana sini tuang
lagi bekonang kalian!
Jeda maghrib saya habiskan untuk
bersenda-gurau sekaligus makan bareng dengan menu soto ayam yang kebetulan
sudah disediakan oleh rekan-rekan panitia. Sesekali jalan-jalan seorang diri ke
perbukitan, siapa tahu beruntung mendapat sinyal, karena memang wilayah
tersebut tidak terjangkau oleh operator jaringan seluler apapun. Namun,
perjuangan tetap sia-sia dan saya pun akhirnya menyerah.
DOAIBU,
didapuk menjadi penampil pembuka di sesi malam hari pasca jeda. Menonton duo
folk underrated dari kota gudeg ini
seketika mengingatkan saya akan lirik-lirik absurd yang pernah diusung The
Panasdalam. Siapa yang tidak terpingkal kalau tiba-tiba mendengar rapalan syair
seperti ini, “Pagi-pagi ibu pergi ke
pasar dan ku menemani, sampai di pasar aku… dijual”.
Penampilan mereka
yang sangat menghibur ditambah harmonisasi vokal keduanya yang begitu wangun membuat penonton tidak ragu untuk
mulai merengsek memadati bibir panggung. Jarang tersapa media, membuat banyak
yang belum mengerti termasuk saya, kalau ternyata mereka baru saja merilis
album bertitel “Kecil dan Dalam”.
Selanjutnya panggung menjadi milik CANDDU. Dari awal ekspektasi saya sangat
besar terhadap penampilan band ini, mengingat band ini adalah lineup pertama yang diumumkan
penyelenggara sejak beberapa bulan yang lalu. Datang jauh-jauh dari kota Jakarta,
melantun tembang-tembang bercorak folk generik pada umumnya, dan saya pun tidak
bisa berkomentar banyak. Pada intinya, bagi kalian para penikmat senja, hujan,
gunung, teh, dan kopi, yuk pada kumpul di mari, serta jangan lupa sampaikan, “Salam
Sejiwa“.
 

Sesi selanjutnya adalah menyanyikan
bersama lagu Indonesia Raya 3 Stanza. Membawa isu-isu nasionalisme ke dalam sebuah
konsep festival musik jujur kurang begitu menarik bagi saya pribadi. Oleh karena
itu, saya memutuskan mlipir saja
untuk membeli teh hangat sekalian mampir ke booth
pameran artwork yang ternyata banyak didominasi
karya-karya Donny Safaribarbar.
Berikut beberapa hasil bidikan saya:
 

Penampil selanjutnya adalah DANDY AND THE COSMIC. Trio blues-rock kawakan
dari kota Ngawi ini tampil sungguh prima, terutama Mas Dandy, yang selalu
eksplosif dan terus menganggap bahwa usia hanyalah sekedar hitungan angka
belaka. Menggeber 3 buah lagu yang seluruhnya dicomot dari album terbaru mereka,
“We Don’t Mind Playing The Blues” yang baru saja dirilis. Malam itu merupakan kali sekian saya melihat penampilan mereka dan
selalu muncul satu pertanyaan besar di kepala saya, “Mengapa band se-keren, se-produktif, dan se-legendaris mereka ini
masih saja bermain di wilayah-wilayah karesidenan?”

Tim hura-hura bernama KBA (Karaoke Bersama Aden) nampaknya
sedang bersiap di atas pentas. Penonton yang sedari awal hanya duduk-duduk anteng mulai menangkap sinyal itu dan berangsur
berdiri untuk menyambut pesta-pora yang sebentar lagi meledak di atas ubun-ubun
mereka. Dan benar sekali, dengan diimami oleh Tory Andromeda dan Kumon Winanda
selaku kurator daftar putar mereka, Melingkar
Festival 2019
hari pertama akhirnya sampai di titik klimaksnya. Menawarkan
sederet hits mulai dari Didi Kempot,
Melly Goeslaw, hingga Reza Artamevia, karaoke massal pun tak bisa dielakkan.
Alhasil, situasi crowd makin lama
makin ganas dan kian menjadi-jadi. Namun sayang produksi suara yang dihasilkan
kurang memuaskan telinga, entah karena faktor pemutar musik mereka atau entah
karena penyebab teknis apa, yang jelas tata suara yang terdengar tidak maksimal,
terkesan mendem, layaknya mendengar
MP3 kompresan. 

Ternyata acara belum purna sampai
di situ saja. Saya yang terlanjur mundur jauh ke arah belakang panggung untuk
sekedar selonjoran, masih mendengar
sayup-sayup rentetan acara yang terus berlanjut. Jika mengacu pada rundown acara, saat itu kalau saya tidak
keliru adalah giliran KUSTHAKANALA.
Sebuah proyek musik satu RT yang mengombinasikan musik modern & tradisi.
Saya pribadi tidak tergoda untuk kembali ke depan panggung, karena jujur,
mendengarkan perempuan nyinden di
tengah malam adalah sebuah ide buruk. Saya mendadak parno terhadap kewingitan di sekitar.

Jarum jam telah menunjuk pukul 1
dini hari dan akhirnya malam itu dipungkasi dengan sesi berkaraoke bersama
lagi, yang kali ini dipandu oleh DJ
SADBOY
dan DIMAS PANJI. Me-remix tembang-tembang indo lawas 80-90an
yang konsep playlist-nya ala-ala
Diskopantera. Saya mau tak mau kudu kembali menceburkan diri ke kerumunan agar
bisa memekik lantang “Ini Rindu”nya Farid Hardja dan sebuah langgam idola “Arti
Kehidupan” milik Mus Mujiono, “Engkau
bukan yang pertama, tapi pasti yang terakhir…”
.

Hari
Kedua: Minggu, 21 Juli 2019

Melawan hawa ultra beku pada pagi
buta tepat di sentra kawasan pegunungan hutan pinus adalah sebuah keniscayaan.
Kami pun tak kehabisan akal. Berikut sekelumit dokumentasinya:

 

Dirasa berhasil mengalahkan cuaca dingin, sekitar pukul 8 pagi kami yang bersepuluh ini memutuskan menuju
warung terdekat untuk berupaya mengisi perut sembari menanti
giliran pentas TUHKASTURA (Ponorogo)
untuk unjuk gigi.

Terlanjur mager dan terlalu keasyikan bercanda,
membuat saya sepertinya lagi-lagi melewatkan 2-3 penampil awal di pagi itu. Saya
baru kembali turun menuju area panggung yakni sekitar pukul 10 menjelang TUHKASTURA menaiki mimbar. Sempat
bertemu dan bertegur sapa dengan salah seorang videografer lokal ternama, Jidat Yuda, untuk berbincang panjang
lebar tentang proyek terbarunya, “Nadaswara” sebuah wadah untuk para musisi cover di Ponorogo, serta tidak lupa, saya sekalian ngawruh ngelmu kepadanya tentang bagaimana cara menjadi kaya tanpa
memelihara tuyul dan tanpa harus menjadi budak korporat.

Benar-benar
tidak salah apabila beberapa bulan yang lalu media-media nasional sekelas HAI
Magazine, Provoke!, Mave, Incotive, hingga 97.5 Play FM (sebuah stasiun radio
di Palembang) sempat memberi ulasan yang positif di awal kemunculan TUHKASTURA. Mereka membuktikannya siang
itu dengan performa yang hampir mendekati angka sempurna. Membuka penampilan
dengan mengover single “Comfortably
Numb” milik Floyd, dan menyudahinya dengan 2 single mereka, berturut-turut: “Exist in Harmony…” dan
“Hope”. Terakhir merupakan single yang
belum mereka rilis, dan untuk yang pertama kalinya baru mereka demonstrasikan pada siang
itu. Seketika saya membayangkan, bagaimana jadinya kalau mereka beruntung mendapat
jatah pentas di malam hari? Dukungan tata cahaya panggung seperti semalam pasti
akan membuat aura magis mereka makin terasa.

Selepas TUHKASTURA melaksanakan kewajibannya, mendadak
saya bak kehabisan bensin. Efek kurang tidur membuat energi saya sangat
terkuras selama 2 hari berada di sana. Saya pun memutuskan pamitan
untuk pulang terlebih dahulu dan terpaksa melewatkan beberapa penampil berikutnya,
antara lain: MUARA NAJMA, MIDNIGHT
RAMBLER, DANIEL RUMBEKWAN, & THE DJADOEL
.

Sekaligus
melalui tulisan ini saya ingin memberi apresiasi setinggi-tingginya untuk dua
pemandu acara Melingkar Festival 2019
yakni: INDUS & KUKUH. Duet MC
terbaik dan terkocak selama puluhan acara musik dalam skala karesidenan yang
pernah saya saksikan. Sejauh ini belum ada yang bisa menandingi kebanyolan
mereka berdua dalam memandu sebuah acara. Bangsat!

Tidak lupa,
ucapan terima kasih buat segenap teman-teman panitia yang selama 2 hari mungkin
sangat kerepotan dalam menjamu saya dan teman-teman dari Ponorogo. Ada: Afif, Patmo, Petrus, Dading, Ardi, Dhimas,
Indus, Kukuh
, dan semua yang mungkin terlupa dan tidak bisa saya sebut satu
persatu melalui tulisan ini. Semoga pergelaran MELINGKAR tahun depan anak-anak
Ponorogo bisa kembali dilibatkan.

Salam.

[Neoan/Benbenan]














Benbenan.com terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin bergabung dan berkontribusi melalui tulisan, foto, video, dsb. Langsung kirim ke benbenandotcom@gmail.com
nantinya setiap karya yang lolos editing akan kami terbitkan di laman benbenan.com




Terimakasih, selamat berkarya!

One thought on “Secarik Reportase “Mlungker” dari Melingkar Festival 2019

Leave a Reply